Rabu, 26 Juni 2013

Kolam jakarta

Seharian kemarin, hujan deras tak lagi mengguyur Jakarta. Sang Mentari, meski masih malu-malu, sempat pula menampakkan dirinya beberapa kali.Seharian kemarin, hujan deras tak lagi mengguyur Jakarta. Sang Mentari, meski masih malu-malu, sempat pula menampakkan dirinya beberapa kali.
Tapi itu bukan berarti derita warga yang menjadi korban banjir berakhir. Banyak di antaranya bahkan justru semakin parah kondisinya akibat luapan Sungai Ciliwung yang tak kuat lagi membendung arus dari pintu air Katulampa, Bogor.
Di beberapa tempat, air memang sudah mulai surut, tapi tak sedikit pula yang masih terendam sampai ke atap rumah. Sampai tadi malam pun proses evakuasi masih terus dilakukan. Jakarta tiba-tiba dipenuhi ratusan ribu pengungsi. Sebagian tinggal di masjid-masjid, sebagian lagi di sekolah-sekolah, bahkan di kuburan. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kalau pada Jumat lalu banjir menyisakan mimpi buruk bagi warga Ibu Kota yang terjebak macet semalaman, bukan berarti kejadian serupa tak akan terulang lagi hari ini atau pekan ini. Data dari posko banjir DKI, sampai tadi malam seluruh pintu air masih berada pada posisi siaga I.
Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, hari ini hujan ringan sampai lebat masih akan mengguyur sebagian wilayah Jakarta, Depok, dan Bogor. Tadi malam pun, ketika laporan ini selesai dibuat, hujan mulai kembali mengguyur sebagian wilayah.
Banyak warga yang tak kaget dengan banjir lima tahunan ini karena rumahnya sudah menjadi langganan banjir. Gubernur DKI Sutiyoso pun tak tampak kaget dengan musibah ini. "Ini memang siklus lima tahunan. Ada 13 sungai yang masuk ke Jakarta. Kalau hulunya tidak dibenahi, tentu sulit bagi saya untuk bergerak. Solusinya ya megapolitan," ujar dia.

Tapi, sebagian lagi menganggap peristiwa ini sebagai yang terburuk di Jakarta karena pada peristiwa-peristiwa sebelumnya rumah mereka tak terkena banjir. Lebih buruk atau tidak, Jakarta kini memang sudah menjadi kolam atau waduk raksasa. Banjir kali ini juga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sedikitnya 20 orang tewas dan satu orang hilang.
Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. I Ketut Untung Yoga Ana, korban meninggal umumnya disebabkan sakit, kedinginan, kesetrum aliran listrik atau terseret derasnya arus banjir. "Angka korban masih bisa berubah karena petugas masih melakukan pendataan," ujarnya.
Data korban tersebut dikumpulkan Polda sejak banjir melanda Jakarta pada Kamis (1 Februari) hingga Minggu (4 Februari). Para korban ini tersebar di wilayah Polda Metro Jaya, yakni Jakarta, Bekasi dan Bogor.

Lemah koordinasi
Polda Metro Jaya pun menambah jumlah personel dari 7.000 orang pada hari sebelumnya menjadi 12.660 personel yang meliputi semua unsur, termasuk Polres dan Polsek. Para personel ini dilengkapi dengan perahu karet 58 unit, rakit 231 buah, pelampung 420 buah, truk 63 unit, ambulans 27 unit, tenaga medis 68, helikopter empat unit, tenda 51 dan mobil toilet lima unit.
Polisi selain menjalankan tugas-tugas SAR dan misi kemanusiaan, juga menjaga keamanan rumah warga yang ditinggal mengungsi. Menurut pantauan Polda Metro Jaya, terdapat 122 titik banjir yang dinilai parah di wilayahnya dan tersebar di Jakarta, Tangerang, Depok, dan Bekasi.
Untung Yoga juga mengatakan paling tidak 23 asrama Polri yang terdiri dari 793 KK atau 2.637 jiwa terendam banjir kali ini.
"Karena itu Polda membuka pos laporan, dalam keadaan darurat warga dapat menghubungi kantor polisi terdekat atau kirim SMS ke nomor 1717 untuk semua operator," ungkapnya.
Menurut pantauan Bisnis, satuan-satuan lain juga sudah menerjunkan bala bantuan masing-masing untuk membantu evakuasi, atau sekadar memasok bantuan makanan. Mulai dari TNI, Unit Pemadam Kebakaran, PMI, termasuk unit siaga dari berbagai perusahaan. Beberapa di antaranya tak lupa memasang bendera partai. Beberapa calon gubernur juga tampak tak mau kalah dan ikut mendirikan tenda bantuan.
Depdiknas juga menurunkan unit bantuannya di daerah korban banjir. Satu tim mendirikan bengkel darurat untuk melayani korban banjir yang sepeda motornya terendam. "Mekaniknya kami ambil dari siswa-siswa lembaga kursus di Cirebon yang diselenggarakan oleh Ditjen Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas," ujar Berry, koordinator pelaksana tim bantuan Depdiknas. Tim mereka juga dilengkapi mobil sekolah dan bantuan makanan. Sayangnya, tak sedikit bantuan yang diberikan tanpa koordinasi. Salah seorang petugas Satkorlak Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran, misalnya, mengeluhkan buruknya koordinasi itu. Sebagian tim bantuan yang sampai di lokasi tak mau berkoordinasi, mereka hanya mau membagikan sendiri bungkusan makanan ke warga. Boleh jadi mereka cuma ingin memastikan bantuannya sampai ke para korban. Tapi, upaya tanpa koordinasi itu tak pelak telah menyebabkan distribusi bantuan jadi tidak merata. Di beberapa tempat lain, pembagian makanan kepada para pengungsi malah menyebabkan kericuhan.

Banjir Kanal
Kisah ini seperti mengulang peristiwa yang sama pada 2002 atau 1996. Maklum, katanya siklus lima tahunan. Akibat banjir musim lalu, tak sedikit pegawai bank yang harus dipersenjatai oleh hair drier dan setrika saat masuk kantor akibat brankasnya yang terendam banjir.
Kisah ini seperti terulang kembali tahun ini. Banjir sekarang juga membuat banyak orang mengumpat akibat mobilnya harus menginap di jalan tol selama delapan jam. Sebagian lainnya juga terpaksa menginap di kantor atau berjalan kaki karena tak ada kendaraan yang beroperasi. Sejarah seperti berulang kembali.
Jauh-jauh hari Pemprov DKI memang sudah mengumumkan kesiapan antisipasi banjir, mulai dari pembersihan sungai sampai memperbanyak pompa air dan perahu karet. Langkah terakhir ini membuat banyak pihak cuma bisa tersenyum kecut. "Artinya, Jakarta memang sudah disiapkan banjir dong."

Akibat banjir kali ini, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto kemarin mengumumkan rencana mempercepat pelaksanaan proyek Banjir Kanal Timur (BKT). "BKT akan selesai pada 2008 jika pembebasan tanah selesai tahun ini."
Menurut dia, proyek BKT sepanjang 23 km dari Duren Sawit sampai dengan Marunda, hingga saat ini baru bisa dikerjakan tujuh kilometer karena sulitnya membebaskan tanah warga.
Dengan peristiwa banjir saat ini, Djoko mengimbau masyarakat merelakan tanahnya untuk proyek tersebut guna mengurangi potensi banjir di wilayah Jakarta. Apalagi, kata dia, tanah tersebut dibeli sesuai dengan harga pasar dan tanpa upaya penekanan.
Proyek BKT, lanjutnya, dilakukan untuk mengatasi banjir di wilayah timur Jakarta. Bila BKT diselesaikan, dia memperkirakan banjir tidak akan separah yang terjadi saat ini.
Alternatif solusi lain, Menakertrans Erman Soeparno menawarkan transmigrasi bagi warga Ibu Kota yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung. "Daripada terus berjubel di bantaran sungai, lebih baik bertransmigrasi demi masa depan anak-anak mereka," ujarnya.
Daerah tujuan transmigrasi yang disiapkan untuk 15.000 korban a.l. di Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar